Perizinan

Perizinan

Cara Pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB )

Mekanisme Persiapan Dalam Pengurusan IMB

Untuk mengajukan dan mengurus IMB sangat diperlukan berupa dokumen-dokumen pendukung sebagai prasyarat kelengkapan yang nantinya akan diperiksa kesesuaiannya oleh petugas yang
bersangkutan. Adapun dokumen-dokumen tersebut antara lain :

- Permohonan Ijin IMB
- Photo Copy KTP / SIM
- Surat Rekomendasi
- NPWP
- Akte Notaris
- Gambar Rencana Bangunan / Konstruksi
- Ijin Pendaftaran
- Tanda Bukti Kepemilikan Tanah
- Photo Copy Ijin Lokasi
- Rekomendasi dari masing-masing dinas terkait.

Secara prinsip, bila dokumen diatas lengkap setelah 5-7 hari kemudian akan diterbitkan IP. Dengan IP kita sudah bisa mulai membangun sambil menunggu IMB yang keluar 20-30 hari kemudian. Selama pembangunan petugas daerah akan melakukan control berkala dan evaluasi di lapangan. IMB memiliki masa berlaku 1 tahun. Apabila dalam 1 tahun pembanguna belum selesai, maka harus mengajukan permohonan perpanjangan IMB. Bila tahun berikutnya masih belum selesai, maka harus mengajukan permohonan pembuatan IMB baru.
Setelah bangunan selesai, masih ada surat yang diperlukan yaitu IPB (Ijin Penggunaan Bangunan). IPB memiliki masa berlaku 10 tahun untuk rumah tinggal dan 5 tahun untuk bangunan non hunian. Bila masa IPB habis, maka pemilik harus mengajukan PKMB (Permohonan Kelayakan Menggunakan Bangunan). Dalam proses tersebut petugas akan memriksa kelayakan bangunan tersebut, terutama dari segi struktur dan konstruksinya.

Contoh Formulir Isian IMB :

formulir imb

Cara Mengurus Surat Nikah

cara-mengurus-surat-nikah-2-285x300

Pertama silahkan persiapkan hal-hal berikut:

Fotokopi Kutipan Akta Kelahiran atau surat outentik lainnya yang menunjukkan kelahiran.
Fotokopi Kartu Keluarga (C1).
Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau surat lain yang menunjukkan kependudukan dengan mencantumkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Fotokopi Ijazah Terakhir.
Fotokopi Akta Cerai/Surat Kematian apabila status pernikahan adalah Duda/Janda.
Foto berwarna ukuran 2×3 sebanyak 4 lembar. Untuk jaga-jaga silahkan bawa ukuran 3×4 dan 4×6 masing-masing 2 lembar. Layar belakang berwarna biru ya sobat. :)

Langkah Kedua calon pengantin datang ke ketua RT untuk meminta surat pengantar nikah. Surat ini ditandatangani oleh Ketua RT dan Kepala Dusun (dibeberapa tempat seperti di kecamatan saya tidak harus meminta pengantar ketua RT). Kemudian catin menuju ke Kantor Desa/Kelurahan dengan membawa surat pengantar dari ketua RT dan 6 macam hal yang disebutkan pada langkah pertama. Kemudian kepala desa akan menerbitkan:

Surat keterangan untuk Nikah (N1)
Surat keterangan asal usul (Model N2)
Surat Persetujuan Catin (Model N3)
Surat keterangan Orang tua (Model N4)
Surat izin orang tua bagi Catin yang berusia kurang dari 21 Tahun (Model N5)
Surat Kematian bagi duda/janda mati (Model N6)
Surat pengantar kehendak nikah (Model N7)
Surat Pengantar ke Puskesmas (untuk Suntik TT), dan
Surat keterangan hubungan keluarga CW dengan wali nikah.

Keterangan: Tidak semua model atau surat keterangan tersebut di atas akan kita terima, tentu surat-surat yang tidak perlu tidak akan diterbitkan :D Peristiwa kehendak nikah dicatat oleh Pembantu PPN disetiap desa dengan menggunakan formulir Buku Catatan Kehendak Nikah (Model N10) yang ditanda tangani oleh Pembantu PPN yang bersangkutan, Kepala Desa setempat dan Kepala KUA/PPN.

Langkah Ketiga Catin dan wali nikah secara pribadi mendaftarkan pernikahan ke KUA Kecamatan setempat dengan membawa berkas-berkas seperti yang termaktub pada langkah pertama dan surat-surat yang didapatkan dari kelurahan/balai desa (seperti tertuang pada langkah kedua). Ditambah juga:

Izin dari Pengadilan dalam hal kedua orang tua atau walinya yang berhak memberi izin dari catin yang usianya kurang dari 21 tahun seperti tertuang dalam pasal 5 ayat (2) huruf (f) PMA Nomor 11 Tahun 2007.
Putusan Pengadilan tentang Dispensasi apabila CP berumur kurang dari 19 Tahun, dan CW kurang dari 16 tahun.
Izin Poligami dari Pengadilan bagi CP yang beristri lebih dari seorang, Foto ukuran 2 x 3 ( dengan warna beground sama) catin masing-masing sebanyak 3 lembar.
Izin dari kedutaan, surat tanda melapor diri, Foto kopi Pasport, dan visa bagi catin berkewarganegaraan asing.
Untuk CW dan walinya juga membawa kelengkapan surat numpang nikah dari CP (bagi yang berbeda domisili) dan biasanya ditanyakan bukti telah melakukan suntik TT (jadi untuk CP tiada salah suntik TT terlebih dahulu)

PROSEDUR DI KUA

Catin atau walinya mendaftarkan pernikahan dan membayar biaya kas Negara sebesar Rp 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah), sebagaimana tertuang dalam PP Nomor 47 Tahun 2004.
Pemeriksaan berkas pernikahan dan entri data SIMKAH (Sistim Informasi dan Management Nikah).
Pemeriksaan Catin, dan wali nikah yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan yang ditanda tangani kedua Catin, Wali Nikah, Pembantu PPN dan PPN/Penghulu (Petugas Pemeriksa).
Apabila ada halangan untuk melaksanakan pernikahan, diberitahukan kepada catin untuk dilengkapi. (dengan menggunakan formulir Model N8).
Apabila tidak ada halangan, maka diumumkan pada papan pengumuman dan atau internet (KUA/SIMKAH Online).
Apabila tidak memenuhi syarat, maka diadakan penolakan dengan menggunakan formulir Model N9.
Catin yang ditolak pernikahan (karena kurang umur, sebab halnya wali atau sebab lain) dapat mengajukan permohonan/dispensasi melalui Pengadilan Agama.
Pelaksanaan pernikahan dapat dilaksanakan setidaknya setelah lewat dari 10 hari kerja sejak Pemeriksaan nikah dan Pengumunan Kehendak Nikah.
Pengecualian tersebut dapat dilakukan dengan Rekomendasi dari Camat (pasal 16 ayat (2) PMA No. 11 Tahun 2007).